Selasa, 10 Mei 2016

Keterpurukan Nokia

 Dina Meisiana - 30814032 (4.2 DS)


NOKIA
 
Nokia Corporation adalah produsen peralatan telekomunikasi terbesar di dunia serta merupakan perusahaan terbesar di Finlandia. Kantor pusatnya berada di kota Espoo, Finlandia, dan perusahaan ini paling dikenal lewat produk-produk telepon genggamnya. Nokia memproduksi telepon genggam untuk seluruh pasar dan protokol utama, termasuk GSM, CDMA, dan W-CDMA (UMTS).


Sejarah Nokia
Kata Nokia berasal dari nama sebuah komunitas yang tinggal di sungai Emakoski di negara Finlandia Selatan. Nokia didirikan sebagai perusahaan penggilingan pulp oleh Fredrik Idestam pada tahun 1865. Perusahaan Karet Finlandia kemudian mendirikan pabriknya di kawasan sekitarnya pada awal abad ke-20 dan mulai menggunakan merek Nokia.
Tak lama setelah usainya Perang Dunia I, Perusahaan Karet Finlandia mengakuisisi Perusahaan Penggilingan Kayu Nokia dan Perusahaan Kabel Finlandia (sebuah produsen kabel telepon dan telegraf). Ketiga perusahaan tersebut digabung menjadi Nokia Corporation pada tahun 1967. Kemudian dikembangkan menjadi mesin bubur kayu dan pembuat kertas pada tahun 1920 dan merupakan pabrik pembuat kertas terkemuka di Eropa.
Pada tahun 1950-an Chief Executive Officer (CEO) Björn Westerlund meramalkan, bahwa masa depan pertumbuhan beberapa sektor bubur kayu dan kertas akan terbatas dan sebagai gantinya dibangun sebuah divisi elektronik di pabrik kabel Helsinki, dari sinilah cikal bakal mulai menjurus ke sektor seluler. Selama 15 tahun Nokia Elektronik mengalami masa percobaan dari beragam kesalahan. Akan tetapi, dari semua kesalahan dan percobaan itu, secara bertahap justru terbangun keterampilan substansial dari sekumpulan ahli yang berbakat. Tahun 1970-an Nokia dan pabrik pembuat televisi Salora bergabung untuk mengembangkan telepon genggam (telepon seluler).
Pada tahun 1980-an seluruh Salora terintegrasi menjadi Nokia. Pada saat yang sama Nokia memperoleh operasi jaringan telepon dari Perusahaan Telekomunikasi Pemerintah Televa. Namun, tidak semua usaha yang dilakukan Nokia menjadi produsen telepon seluler terkemuka di dunia berjalan sukses. Tahun 1980-an perusahaan ini membeli pabrik televisi Jerman, SEL, tetapi terpaksa meninggalkannya karena tidak berjalan mulus.
Pada awal 1981, Nokia berhasil meluncurkan produk bernama Nordic Mobile Telephony (NMT). NMT merupakan jaringan selular multinasional pertama di dunia. Karena itu, sepanjang dekade 1980-an NMT diperkenalkan ke sejumlah negara dan mendapat sambutan yang luar biasa.
Kemudian pada awal tahun 1990-an, Nokia sempat mengalami krisis, tetapi CEO yang baru, Jorma Ollila, memutuskan untuk memfokuskan pada telepon seluler dan jaringan telepon. Hasilnya, telepon GSM pertama kali di dunia muncul di Finlandia tahun 1991. Kemudian pasar telepon seluler global mulai berkembang sangat cepat pada pertengahan 1990-an dan produk Nokia menjadi yang nomor satu.
Kini sebanyak 2.100 seri ponsel Nokia mendulang sukses. Target penjualan sebanyak 500 ribu unit berhasil diraih pada 1994. Dengan tenaga kerja sebanyak 54 ribu orang, produk Nokia terjual di 130 negara. Sekarang mungkin setiap orang tau telepon seluler yang mudah dalam pengoperasiannya adalah Nokia, karena itulah moto Nokia.
Sejak dahulu negara Finlandia sangat tergantung pada hasil hutannya yaitu berupa kayu, seperti yang telah dikatakan oleh salah satu pihak Departemen Luar Negeri Finlandia, Jyrki Vesikansa, “Dulu kami hidup dari hutan, tetapi saat ini kami dapat menambahkan pada Nokia”.
Pada tanggal 15 Agustus 2007, Nokia pusat melakukan recall terhadap baterai tipe BL-5C, salah satu baterai terpopuler untuk ponsel Nokia pada saat ini.[4]
Pada tanggal 3 September 2013, Microsoft akan membeli unit bisnis perangkat dan layanan bisnis Nokia senilai 3,79 miliar euro (5 miliar dollar AS) dan 1,65 miliar euro (2,2 miliar dollar AS) untuk lisensi paten Nokia. Jika ditotal, Microsoft harus merogoh kocek 5,44 miliar euro (7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 79 triliun) untuk rencananya mengakuisisi bisnis utama Nokia.[5]

PENYEBAB KEGAGALAN NOKIA 

Internal 

  1. Absennya produk yang popular terlalu lama, sehingga menurunkan pamor Nokia dan tergantikan oleh pesaingnya.
  2. Nokia terlalu fokus mengembangkan symbian tanpa memberikan inovasi yang berarti. 
  3. Nokia tidak fokus pada pengembangan hardware (phone) saja, usaha Nokia untuk mengambangkan software (Symbian, Megoo) malah membuat Nokia tidak fokus. 
  4. Strategi mengganti symbian dengan Windows 8 (Microsoft) tidak berhasil, dan membuang hasil R&D symbian yang telah memakan banyak biaya. 
  5. Keputusan Board CEO lamban dalam menyikapi tren terbaru. Birokrasi yang kompleks dan divisi yang gemuk menyebabkan pengambilan keputusan yang relative lama. 
  6. Selain vendor ponsel, Nokia juga merupakan vendor penyedia jaringan infrastruktur (lewat NSN-Nokia Siemens network), kadangkala ponsel yang dihasilkan mengikuti produk teknologi yang diciptakannya, namun kurang mengakomodasi dari produk teknologi vendor jaringan infrastruktur yang berbeda.
  7. Nokia seringkali menjadi pelopor dalam meluncurkan produk terbaru namun tanpa prospek masa depan yang lebih baik. Nokia gagal mengantisipasi, memahami atau mengatur diri untuk menghadapi perubahan zaman. Bahkan bisa dibilang ponsel Nokia terbaru adalah fitur yang siap, namun tidak siap di masa depan.
  8. Salah satu produknya yakni Lumia 900 yang merupakan smartphone berbasis Windows Phone 7 tidak diberi opsi upgrade ke Windows Phone 8, dimana ada perbedaan arsitektur yang sangat mendasar antara Windows Phone 7 dan Windows Phone 8.

Eksternal 

  1. iPhone & Android smart phone (Samsung, HTC, LG, dll) dan RIM berhasil mengambil market - Nokia gagal mengambil momentum Smart Phone Booming.
  2. Ketidakunikan Nokia dibanding mobile phone competitor. Smartphone yang berbasis Apple punya keunikan (user experience, high lifestyle), atau smartphone berbasis Android (kaya akan applikasi dan game gratis), demikian pula Smartphone Blackberry (push email, messaging, BBM dan social media). Dan keunikan itu merupakan kekuatan yang menyebabkan mereka dilirik oleh pasar dan akhirnya mampu menggeser Nokia sebagai raja. Nokia yang menyediakan produk produk untuk melayani semua segmen pasar menjadi tidak unik dan ditinggalkan customer/pembeli.
  3. Vendor ponsel China (Huawei, ZTE) dan Korea (Samsung, LG) mengeluarkan smart phone low cost untuk menyaingi kerajaan Nokia di negara berkembang.
  4. Smartphone Ecosystem, Banyaknya Application developer di iPhone dan Android, sehingga user dapat meng-customize aplikasi sesuai kebutuhan. Hal ini tidak ada di Nokia symbian / windows 8. OVistore (kini Nokia Store) tidak mampu menarik para developer untuk menciptakan aplikasi dan game terbaiknya disana.
  5. Transisi customer dari mobile phone ke smart phone sangat cepat.
  6. Persaingan bebas, membuat semua perusahaan termasuk Nokia harus bersaing ketat dengan perusahaan lain. Yang tercepat, termurah dan terbaiklah yang akan menang.
  7. Telat melakukan antisipasi menghadapi gempuran vendor ponsel China dalam penyediaan low cost dual sim card phone. Nokia merilis sejumlah ponsel dual sim card murah seperti Nokia X1-01, C2-01 atau Asha 200 dengan harga terjangkau namun hal tsb dilakukan ketika penetrasi market dual sim card sudah saturasi, dan image ponsel China dengan dual sim card (bahkan dengan fitur lain, misalnya tivi) sudah mengakar kuat di benak konsumen.
  8. Tidak adanya Collaborative Innovation yang kuat di Nokia (meskipun akhirnya menggandeng Microsoft), tidak seperti Samsung yang sedari awal sadar ia tak akan mampu melawan kompetensi software Apple. Karena itu ia segera melakukan kolaborasi dengan software Android milik Google

  

STRATEGI YANG DIJALANKAN SEBELUMNYA

  1. Fokus pada pengembangan symbian
  2. Berkolaborasi dengan Microsoft (namun telat, karena iPone dan Android telah menguasai pasar)
  3. Inovasi di smartphone gadget vendor lain sangat tinggi, sedangkan Nokia tidak banyak perubahan. Di Q1/2012 menjadi kuartal pertama Samsung mengalahkan Nokia dalam total jumlah pengiriman ponsel, namun Samsung sudah menyalip Nokia dalam volume penjualan dan profitabilitas sejak tahun 2010.

STRATEGI BARU NOKIA 

  1. Perampingan Divisi, Nokia menghapus divisi penjualan.
  2. Memutuskan untuk fokus pada customer.
  3. Meningkatkan transparansi dan memotong cost.
  4. Nokia Lumina – Berkolaborasi dengan Microsoft – 
  5. Connecting another billion, merambah market baru (Nokia.com).
  6. Melayangkan gugatan penyalahgunaan hak paten atas produk pesaing.


ANALISA POSISI NOKIA DALAM VENDOR PONSEL DUNIA

Matrix IFE 

IFE matrix
Skor bobot untuk matriks IFE bernilai 1,6 ini mengindikasikan posisi internal perusahaan Nokia sangat lemah.

Matrik EFE

EFE matrix
Skor bobot untuk matriks EFE bernilai 2.0 mengindikasikan organisasi belum berhasil memanfaatkan peluang eksternal yang ada dan belum berhasil menghadapi ancaman eksernal.

Kedua bobot skor Matrik IFE dan EFE yang diperoleh kemudian di petakan ke matriks IE
IFE vs. EFE map
Jenis strategi yang sesuai sesuai kuadran IX untuk NOKIA adalah Harvest atau Divest

Matrix Profile Competitive

Profile Competitive
Dengan menggunakan Matriks Profil Kompetitif, posisi Nokia terlihat kurang baik dengan poin 2.15 berada di posisi kedua dari bawah setelah vendor ponsel lokal di Indonesia, Nexian

Fishbone Diagram

Diagram Tulang Ikan untuk permasalahan NOKIA
Diagram di atas menggambarkan sumber permasalahan Nokia yang jika tidak dilakukan kegiatan korektif tentu akan berujung kepada kebangkrutan.

Jumat, 06 Mei 2016

Root Cause Analysis (RCA)

Root Cause Analysis (RCA) adalah tool yang populer digunakan oleh perusahaan yang menjalankan Lean Six Sigma. RCA adalah salah satu alat (tool) yang digunakan dalam inisiatif problem solving; untuk membantu tim menemukan akar penyebab (root cause) dari masalah yang kini sedang dihadapi.
 Ada Beberapa Metode Analisis Akar Masalah
1. Event Tree Analysis
            Adalah teknik analisis untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi urutanperistiwa dalam skenario kecelakaan yang potensial. ETA menggunakan struktur pohon logikavisual yang dikenal sebagai pohon kejadian (ET). Tujuan dari ETA adalah untuk menentukanapakah suatu kejadian akan berkembang menjadi sebuah kecelakaan serius atau jika peristiwatersebut dapat dikendalikan oleh sistem keselamatan dan prosedur yang diterapkan dalam desainsistem. ETA dapat menghasilkan berbagai kemungkinan hasil keluaran dari sebuah kejadianawal, dan dapat memprediksi kemungkinan terjadinya kecelakaan untuk setiap hasil keluaran.

2. Fault Tree Analysis  
•          Teknik yang memberikan penjelasan sistematis dari kombinasi kejadian-kejadian yang mungkin dalam sistem yang mengakibatkan kerusakan.
•          Pada dasarnya, fault tree adalah diagram logika dimana gerbang-gerbang logika digunakan untuk menentukan hubungan antara peristiwa-peristiwa dimasukkan dan peristiwa-peristiwa dikeluaran.

3. Failure Mode & Effect Analysis (FMEA)
                Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah pendekatan sistematik yang menerapkan suatu metode pentabelan untuk membantu proses pemikiran yang digunakan oleh engineers untuk mengidentifikasi mode kegagalan potensial dan efeknya. FMEA merupakan teknik evaluasi tingkat keandalan dari sebuah sistem untuk menentukan efek dari kegagalan dari sistem tersebut. Kegagalan digolongkan berdasarkan dampak yang diberikan terhadap kesuksesan suatu misi dari sebuah sistem.

4. Systematic Cause and Analysis Tools (SCAT)  
                Suatu Tool yang digunakan untuk mengevaluasi  dan menginvestigasi Incident dengan
Menggunakan SCAT Chart .

5. Bird & Loftus – Loss Causation
                Bird & Loftus menggambarkan penyebab terjadinya accident yang dapat menimbulkan injury/loss seperti berikut ini:
Penyebab accident seperti ditunjukkan dalam gambar di atas, menurut Bird & Loftus adalah meliputi kejadian-kejadian mendahuluinya berupa perilaku dan kondisi tidak aman, penyebab-penyebab langsung dan rendahnya kontrol managemen. Teori ini menggarisbawahi atau membedakan antara penyebab langsung dengan peran managemen. Dari teori ini sudah terlihat bahwa pada akhirnya sebuah accident terjadi karena menyangkut sistem manajemen.

6. Fishbone Diagram
                 Fishbone diagram akan mengidentifikasi berbagai sebab potensial dari satu efek atau  masalah, dan menganalisis masalah tersebut melalui sesibrainstorming. Masalah akan dipecah menjadi sejumlah kategori yang berkaitan, mencakup manusia, material, mesin, prosedur, kebijakan, dan sebagainya. Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan melalui sesi brainstorming.

RCA dapat dijalankan dalam 5 langkah berikut:
Langkah 1 
– Definisikan Masalah
Masalah apa yang sedang terjadi pada saat ini?
Jelasklan simptom yang spesifik, yang menandakan adanya masalah tersebut!
Langkah 2 
– Kumpulkan Data
Apakah anda memiliki bukti yang menyatakan bahwa masalah memang benar ada?
Sudah berapa lama masalah tersebut ada?
Impact apa yang dirasakan dengan adanya masalah tersebut?
Dalam tahap ini, harus dilakukan analisa mendalam sebelum anda melangkah untuk melihat faktor-faktor yang berperan dalam timbulnya masalah. Untuk membuat Root Cause Analysis yang anda jalankan efektif, kumpulkanlah perwakilan-perwakilan dari setiap departemen yang terlibat (mulai dari staf ahli hingga staf garda depan), yang memahami situasinya. Orang-orang yang memang familiar dengan masalah tersebutlah yang mampu membantu anda mendapat pemahaman akan situasi saat ini.
Untuk mempermudah, pada tahap ini anda bisa menggunakan metode CATWOE. Tool ini akan memberikan kemampuan untuk melihat sebuah situasi dari berbagai perspektif: yaitu Customer (pelanggan), Actor (karyawan yang terlibat),Transformation Process (proses yang mengalami masalah), World View (gambaran besar, dan area mana yang mengalami impact paling besar), Owner (process owner), dan Environmental Constraint (hambatan dan keterbatasan yang akan mempengaruhi keberhasilan solusi yang akan dijalankan).
Langkah 3
 – Identifikasi Penyebab yang Mungkin
Jabarkan urutan kejadian yang mengarah kepada masalah!
Pada kondisi seperti apa masalah tersebut terjadi?
Adakah masalah-masalah lain yang muncul seiring/mengikuti kemunculan masalah utama?
Dalam tahap ini, lakukan identifikasi sebanyak mungkin penyebab masalah yang bisa anda dan tim pikirkan. Dalam banyak kasus, orang akan mengidentifikasi satu atau dua faktor kausal, lalu berhenti. Padahal satu atau dua itu belum cukup untuk menemukan akar masalah yang sebenarnya. RCA dilakukan bukan hanya untuk menghilangkan satu dua masalah di permukaan. RCA akan membantu menggali lebih dalam dan menghilangkan akar dari keseluruhan masalah. Selain itu simak beberapa tips untuk melakukan RCA berikut ini.
Gunakan beberapa tool berikut untuk membantu menemukan faktor-faktor kausal dari masalah:
Analisa “5-Whys” – Tanyakan “mengapa?” berulang kali hingga anda menemukan jawaban paling dasar.
Drill Down – Bagilah masalah hingga menjadi bagian-bagian kecil yang lebih detail untuk memahami gambaran besarnya.
Apresiasi – Jabarkan fakta-fakta yang ada dan tanyakan “Lalu kenapa jika hal ini terjadi/tidak terjadi?” untuk menemukan konsekuensi yang paling mungkin dari fakta-fakta tersebut.
Diagram sebab-akibat – Cause and Effect Diagram (Fishbone Diagram), berupa bagan yang menerangkan semua faktor penyebab yang mungkin untuk melihat dimana masalah pertama kali muncul.
Langkah 4 
– Identifikasi Akar Masalah (Root Causes)
Mengapa faktor kausal tersebut ada?
Alasan apa yang benar-benar menjadi dasar kemunculan masalah?
Gunakan tool yang sama dengan yang digunakan dalam langkah 3 untuk mencari akar dari setiap faktor. Tools tersebut dirancang untuk mendorong anda dan tim menggali lebih dalam di setiap level penyebab dan efeknya.
Langkah 5 
– Ajukan dan Implementasikan Solusi
Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah masalah muncul kembali?
Bagaimana solusi yang telah dirumuskan dapat dijalankan?
Siapa yang akan bertanggungjawab dalam implementasi solusi?
Adakah resiko yang harus ditanggung ketika solusi diimplementasikan?
Analisa proses identifikasi cause-effect anda dan yemukan kebutuhan akan perubahan dalam sistem yang lain. Hal lain yang juga sangat penting, lakukan prediksi dari efek yang akan terjadi dengan penerapan solusi. Dengan cara ini, anda dapat menghindari/menghilangkan masalah sebelum mereka muncul ke permukaan.
Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menggunakan tool FMEA(Failure Mode and Effects Analysis). Tool ini dibuat untuk menganalisa resiko untuk mengidentifikasi titik-titik potensial dimana kesalahan bisa terjadi. FMEA juga merupakan alat yang baik untuk diterapkan di seluruh organisasi karena makin banyak sistem yang diawali dengan FMEA, semakin sedikit masalah yang akan terjadi yang membutuhkan RCA di masa depan.
Tool lain yang berguna yaitu Kaizen. Tool continuous improvement ini akan membantu anda menciptakan perubahan-perubahan kecil yang bila dilakukan di banyak titik akan meningkatkan kualitas sistem secara keseluruhan. Kaizen sangat efektif untuk mengatasi masalah dalam proses karena dijalankan oleh orang-orang yang benar-benar terlibat dalam proses tersebut dalam keseharian. Dengan Kaizen, akar masalah akan dapat diidentifikasi dan diselesaikan dengan cepat dan efektif.
Why ?
•       Jika Anda melihat ada masalah oli tercecer di lantai, apa yg Anda lakukan?
•       Langkah berikutnya, tanyalah KENAPA oli bisa tercecer di lantai?
•       Karena oli ini merembes dari tangki oli yang bocor. Tindakan kita adalah perbaiki tangki oli tsb.
•       Cukup???
•       Cobalah tanya lagi KENAPA tangki oli bocor ???
•       Jawabannya adalah karena tangki ini tidak ada pemeriksaan berkala untuk kebocoran.
•       Tindakan kita adalah masukkan poin pemeriksaan kebocoran tangki di jadwal pemeliharaan kita.
•       Cukup???
•       Coba tanyakan lagi KENAPA tidak ada pemeriksaan berkala untuk kebocoran?
•       Ternyata jawabannya tidak ada aktivitas identifikasi mengenai apa saja check-point dari tiap peralatan.
•       Tindakan kita memperkenalkan aktivitas identifikasi check point untuk tiap peralatan
•       Menggunakan iterasi yaitu pertanyaan MENGAPA yang diulang beberapa kali sampai menemukan akar masalahnya.
•       Contoh : Masalah Mesin breakdown
•       Mengapa? Komponen automator tidak berfungsi
•       Mengapa tidak berfungsi? Usia komponen sudah melebihi batas lifetime 12 bulan
•       Mengapa tidak diganti? Tidak ada yang tahu
•       Mengapa tidak ada yang tahu? Tidak ada jadwal rutin maintenance
•       Mengapa tidak ada jadwal rutin? Inilah akar masalahnya
Tahapan umum “why analysis”:
•       Menentukan masalahnya dan area masalahnya
•       Mengumpulkan team untuk brainstorming
•       Turun ke lapangan untuk melihat actual tempat, actual object, dan actual data
•       Mulai bertanya menggunakan why dan why……
Tahapan umum “why analysis”:
•       Setelah sampai pada akar masalah, ujilah setiap jawaban dari yang terbawah apakah jawaban tersebut akan berdampak pada akibat di level atasnya.
•       Pada umumnya solusi tidak mengarah pada menyalahkan ke orang tapi bagaimana cara melakukan perbaikan sistem atau prosedur
•       Jika akar penyebab sudah diketahui maka segera implementasikan solusinya
ROOT CAUSE ANALYSIS
•       Dalam proyek-proyek improvement :
–      Mengidentifikasi potensi kegagalan/kesalahan produk ataupun proses
–      Mencatat efek yang akan timbul jika benar-benar terjadi kegagalan/kesalahan
–      Menemukan sebab-sebab potensial dari kesalahan tersebut dan resiko yang ditimbulkan
–      Membuat daftar dan prioritas tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko kegagalan/kesalahan.


Selasa, 19 April 2016

Kemunduran Nokia Dan Blackberry



Good Bye Nokia

Dulu penguasa, kini tidak bermakna. Dimanakah letak kesalahannya? 

VIVAnews - Nokia mengakhiri dominasi 14 tahun pada pasar ponsel dunia. Data yang dirilis IHS iSupply dan Strategy Analitics (Analis Strategi) tidak membawa kabar baik. Saham Nokia kini mendapat status baru, turun ke level BB+/B.

Menurut IHS iSuppli, Nokia mengapalkan 83 juta unit pada kuartal pertama 2012, sementara Samsung 92 juta. Strategy Analitics memiliki angka berbeda yang tidak mengubah nasib Nokia. Perusahaan asal Finlandia ini telah mengirim 82,7 juta ponsel dan Samsung 93,5 juta unit.

Nokia terus mengalami kemunduran selama beberapa tahun terakhir. Di manakah letak kesalahan Nokia? Inilah penyebabnya seperti dikutip dari laman Wired.com:

Nokia terlalu lamban


Nokia merupakan pionir dalam memperkenalkan pasar smartphone dengan peluncuran Seri Symbian pada 2002. Tapi, selama lima tahun OS ini mengalami kendala meraih posisi puncak di pasar.

Ketika 2007, Apple mengenalkan iPhone. Tapi, Nokia terlambat merespons iPhone hingga beberapa tahun. Platform Symbian tampak menua dibanding kesegaran iOS dan Android. Pasar smartphone meledak dengan permintaan konsumen meningkat dibanding ponsel yang mengandalkan browser WAP.

"Nokia seharusnya merespons Apple dengan lebih cepat. Mereka tidak melompat ke Windows Phone hingga 2011. Sekarang mereka menderita karena keterlambatan ini," ujar analis senior IHS.

Android untung, Windows Phone buntung

Samsung sudah menggenjot dengan kecepatan tinggi bersama Android. Kini mereka menjajal pula "makanan" baru Nokia, Windows Phone. Nokia masih harus menunggu Windows Phone memberikan keuntungan yang signifikan.

"Samsung memilih Android pada waktu yang tepat. Karena Samsung telah menjadi pemain dominan di ranah Android, mereka dapat mendaki platform lain yang naik daun," urai analis Strategy Analytics, Alex Spektor.

Atas dan bawah terluka

Nokia lambat merangkul pasar smartphone. Perusahaan yang dikomandoi Stephen Elop ini tidak mengantisipasi kompetisi pada pasar kelas menengah ke bawah. Vendor Cina dan Taiwan seperti HTC, Huawei, dan ZTE memukul dari bawah dengan target negara berkembang.

Generasi tua

Nokia membawa nostalgia game Snake pada seri klasik. Sayangnya, konsumen di negara berkembang telah mengasosiasikan Nokia dengan teknologi zaman dulu. Saat ini, dunia menginginkan perangkat terbaru dan tercanggih.

"Nokia menjadi merek tua. Samsung dilihat sebagai inovator. Nokia memiliki warisan game tradisional Brick dan ponsel candybar," Lam dari IHS.

Organisasi berseri

Apple telah mengatur rilisan ponselnya di bawah payung merek iPhone. Samsung mengadopsi gaya ini dengan seri Galaxy andalan, Samsung Galaxy S. Konsumen menunggu produk terbaru dari seri ini.

Eksekusi Nokia terseok beberapa tahun ini. Pada 2011, Nokia baru kembali dengan Windows Phone. Analis yakin Nokia nanti bisa sukses bersama Microsoft.

Lam percaya apabila Nokia sanggup memangkas pengeluaran dan fokus menata perusahaan, maka dalam jangka pendek mereka dapat bertahan.


Kemunduran Blackberry

Beberapa tahun belakangan ini, dunia pun menyaksikan tersandungnya BlackBerry dari urutan puncak pasar handphone pintar. Penjualan perangkatnya mulai runtuh, dari puluhan juta unit menjadi hanya jutaan saja.

Banyak pengguna BlackBerry mulai beralih ke merek lain. Popularitas dari perangkat yang diluncurkan oleh BlackBerry terus menurun, kalah dari platform mobile yang lebih baru seperti Android dan iOS.
Keduanya menawarkan sistem operasi yang lebih interaktif, lebih berwarna, sambil menawarkan keamanan yang sama baiknya.



Ada 5 kesalahan BlackBerry yang menyebabkannya kehilangan banyak pangsa pasarnya:



1. Terlambat menggunakan teknologi layar sentuh
Mantan CEO BlackBerry, Mike Lazaridis, pernah mengejek teknologi dari iPhone. Dia pernah mengatakan baterai iPhone sangat minim kekuatan dan menolak adanya gagasan bahwa tidak akan mau mengetik pada layar kaca. Pada saat itu BlackBerry baru meluncurkan keyboard QWERTY.

Namun, tren ponsel pintar terus berubah. Pengguna lebih menginginkan ponsel yang memiliki layar lebar, layar sentuh, pemutar musik dan video -- semuanya sudah dimiliki oleh produk-produk besutan Apple.

BlackBerry tidak cepat beradaptasi dan tidak cepat melakukan perubahan. Akhirnya mereka mulai ditinggalkan penggunanya secara perlahan-lahan.

2. Terlalu fokus pada pembuatan produk PlayBook
Tablet BlackBerry PlayBook merupakan salah satu kegagalan terbesar dalam industri teknologi gadget. Produk itu mulai diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun 2010 dan mulai dipasarkan pada tahun 2011.

BlackBerry melakukan kesalahan besar, semua sumber dayanya difokuskan untuk pembuatan PlayBook. Tim pengembang ponsel pintar juga ikut bekerja membuat PlayBook. Akhirnya segmen ponsel pintar mulai tidak diperhatikan.

Jika BlackBerry melewatkan pembuatan PlayBook dan langsung memproduksi BlackBerry 10 pada waktu lalu, mungkin hasilkan akan berbeda. Blackberry masih tetap berada di posisi teratas produsen ponsel pintar.


3. Kesalahan besar ada di tangan CEO BlackBerry, Mike Lazaridis dan Jim Balsillie
Dua mantan CEO BlackBerry Mike Lazaridis dan Jim Balsillie, sebenarnya memiliki tanggung jawab yang besar dibandingkan dengan CEO saat ini, Thorsten Heins.

Lazaridis dan Balsillie sangat keras kepala dan tidak mau berubah terhadap tren yang ada di pasar ponsel pintar. Keduanya mengabaikan ancaman dari pesaing-pesaingnyam Apple dan Google, malah menghambur-hamburkan uang untuk pembuatan PlayBook.

Lazaridis dan Balsille pun mundur dari jabatan CEO BlackBerry pada Desember 2011, dan menyerahkan kepada Heins, yang resmi menjadi CEO pada Januari 2012. Heins masih terus berusaha membuat perubahan, tapi BlackBerry sudah sangat jauh tertinggal dari para pesaingnya.

4. Tertundanya peluncuran BlackBerry 10 hingga tahun 2013
Sistem operasi terbaru BlackBerry 10 baru dikeluarkan pada Januari 2013. Namun, pada saat yang sama pesaing mereka, Apple sudah mengeluarkan iOS generasi keenam. Sedangkan Google telah meluncurkan Android generasi keempat.

Untuk membuat suatu sistem operasi bukan hal yang mudah. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa memproduksi sistem operasi yang berkualitas baik. Seandainya Lazaridis dan Balsillie sudah bisa terhadap produk iPhone pada tahun 2007 dan
Android pada tahun 2008, mungkin BlackBerry akan memiliki cerita berbeda.

Selain Blackberry terjebak pada perkembangan produk PlayBook, perusahaan juga lebih memilih meng-update hardware dari pada sistem operasinya. Itu terjadi akibat dari kepemimpinan yang buruk, dan benar-benar sangat memalukan bagi perusahaan.

5. Enterprise
Pasaran enterprise yang dulu pernah "memuja-muja" BlackBerry, beralih ke platform lain, seperti iPhone untuk urusan perusahaan. Perangkat lain, seperti iPhone, mampu menawarkan performa bisnis yang baik, sekaligus menawarkan fitur entertainment, satu fitur yang tidak dimiliki platform BlackBerry. Mulai banyak orang yang beranggapan bahwa BlackBerry membosankan.

Saat iPhone dirilis, diikuti dengan Android, BlackBerry berusaha keras untuk mengikuti, dan sayangnya tidak bisa cepat menyesuaikan diri dengan perubahan keinginan konsumen.

Ada Apa Dengan Industri Elektronik Jepang?



Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.
Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati).
Walau negara Jepang juga terkenal dengan beberapa strategi sukses luar biasa, siapa sangkap nagara ini juga memliki rahasia yang mungkin belum banyak diketahui oleh kita semua terkait kelemahan yang ada di lingkungan perusahaan jepang penyebab mereka bisa roboh dan runtuh karena harus tersenggol pesaing mereka dari negara lain yang menyerang masuk ke jepang.
Dari apa yang kami ketahui berdasarkan beberapa sumber terkait faktor – Faktor yang menyebabkan lemahnya perusahaan jepang dan menjadi sebab keruntuhan mereka, ialah sebagai berikut:


Pertama : Faktor ” Harmony Culture Error “

Kita tahu bahwasanya di era digital seperti ini “ Kecepatan” adalah kunci Bisnis sukses. Atau istilah Speed In Decision Making And speed in Product development akan sangat berlaku sekali dijaman ini.

Perusahaan jepang mungkin belum siap dengan keadaan ini, pasalnya ini benar – benar membuat mereka menjadi kewalahan dalam persaingan bisnis. Karena Di jepang sangat menjunjung tinggi Harmoni dan Konsesus dalam beberapa perusahaan.
Bila anda ingin tahu, silahkan datang memantau bagaimana perusahaan jepang melakukan Rapat kerja dalam menentukan pengambilan keputusan, karena mengangungkan Konsensus jepang rela menghabiskan waktu berminggu – minggu untuk Rapat dalam pengambilan keputusan terkait produk baru yang akan mereka luncurkan. Sayangnya , begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru lebih dulu, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo lebar.

Perusahaan yang sangat menjunjung Tinggi Konsesus di Era digital ini = Tragedi lamban dalam mengambil keputusan, karena keburu oleh perusahaan pesaing dari negara lain. Budaya Harmoni Jepang juga menjadi sebab ide – ide kreativ mereka menjadi terhambat dan tidak pernah mekar.

Kedua : Faktor “ Seniority Error ”


Masih berkaitan dengan Jaman Serba Digital seperti sekarang, INOVASI adalah nafas sebuah perusahaan.
Di jepang sangat mementingkan dan menjaga budaya senioritas dan sangat loyalitas atau sungkan pada atasan. Perusahaan jepang sangat rajin memelihara para sesepuh sebagai senioritas, disana kita tidak akan melihat perusahaan jepang memiliki senior manajer yang berusia 30 tahunan, karena disana tidak percaya istilah “ rising Star dan Young Creative Guy merupakan hal aneh bagi mereka.
Setiap ada promosi karir perusahaan jepang menggunakan metode “Urut Kacang” artinya yang Tualah yang didahulukan, So, No Matter What.
“Di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman”.
Kelemahan ini akan menjadi sebab kematian Inovasi, bagaimana akan tercipta orang – orang muda creative jika anak muda selalu disampingkan.

Ketiga : Adanya “ Old Nation Error”.


Faktor kelamahan yang terakhir ini agak mirip memang dengan “ seniority Error”. Aspek Demografi jepang merupakan Nagara yang Menua, artinya lebih dari separuh penduduk jepang berusia 50 tahun keatas.
Hal ini memberikan gambaran bahwasanya, perusahaan di jepang mayoritas senior manajernya memiliki mereka yang usianya sudah menua dan tentunya akan lamban dalam berinovasi.
Biasanya yang berlaku adalah bagi karyawan yang sudah bertahun – tahun bekerja pada perusahaan yang sama mereka akan kurang peka terhadap perubahan yang berlangsung begitu cepat di luar perusahaan. Disana ada Situasi “ ComfortZone” yang menjadi energi para senior tua.
Kasus Nokia kita tahu, penerus perusahaan yang juga merupakan putra penggagas perusahaan yang sempat menjadi Idola dunia karena produk Hp Nokianya, kini berlahan menghilang, karena didalamnya sangat menjunjung tinggi Loyalitas dan sungkan pada karyawan tua yang menjadi senior, mereka tidak memberikan inonasi baru bagi nokia dan pada akhirnya menjadi sebab berlahan tenggelam.